Menulis Daftar Pustaka (APA Style)

Image result for literature review

Seperti janji saya pada post sebelumnya, kali ini saya akan membahas mengenai tata cara menuliskan daftar pustaka yang mingikuti format APA style. Format ini adalah format yang dipergunakan di kampus tempat saya mengajar, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Karena ini akan menjadi post yang panjang, maka akan saya sertakan juga lampiran pada akhir post sehingga mudah untuk didownload bagi mereka yang membutuhkan 😀

Jika merujuk pada definisinya,  daftar pustaka menurpakan suatu daftar yang memuat semua informasi dari sumber kutipan secara jelas dan terperinci, yang disusun secara alfabetis. Secara umum cara menuliskan daftara pustaka adalah sebagai berikut:

  1. Penulisan nama pengarang pertama dan seterusnya: nama belakang/keluarga diikuti dengan inisial nama depan dan tengah (jika ada)
  2. Hanya huruf pertama dari judul karya atau judul tambahan ditulis menggunakan huruf kapital.
  3. Pada sumber online, tuliskan secara lengkap URL nya dengan cara menuliskan kata “retrieved from” atau “diakses dari” sebelum URL dan tidak dituliskan tanggal akses (tanggal unduh atau melihat web tersebut).
  4. Untuk Prosiding yang diakses secara online maka gantikan kota terbit dan penerbit dengan nomor DOI (Digital Object Identifier) atau URL, seperti dalam artikel jurnal online.
    • Nomor DOI (Digital Object Identifier) adalah penanda yang spesifik dan tetap untuk dokumen online yang
  5. Nama negara dari kota terbit dituliskan setelah kota terbit dan dipisahkan dengan tanda koma.
  6. Tidak ada kata yang digarisbawahi, termasuk URL

Continue reading

Advertisements

VARK: Get to know Your Learning Style!

Metode belajar efektif untuk setiap orang itu berbeda. Jadi, biasanya sebelum memulai perkualiahan di semester tertentu, sangat penting bagi saya untuk melihat apa yang menjadi “preferensi” belajar mereka. Tentu setiap mahasiswa memiliki preferensi belajarnya sendiri-sendiri, namun dengan mengetahui apa yang menjadi preferensi mayoritas akan mempermudah saya dalam menyampaikan materi.

Untuk mengetahui metode apa yang paling cocok untuk kelas tertentu, saya menggunakan tes VARK. Tes ini digunakan untuk mengetahui metode belajar seperti apa yang dapat membantu mahasiswa untuk “cepat menangkap” materi yang dijelaskan oleh dosennya 🙂

VARK SAS

Secara singkat, VARK merupakan singkatan dari Visual, Auditory, Read/Write, dan Kinesthetic.  Ada tipe mahasiswa yang kalau belajar dengan baca, dia bisa cepat paham (metode Read). Ada yang cepat paham kalau dijelaskan secara mendetail sama orang lain (metode Auditory). Ada juga yang cepat paham kalau dia melihat peta konsep/diagram/gambar/video (metode Visual). Terakhir ada juga yang cepat paham kalau dia praktik secara langsung (atau sambil bergerak; metode Kinesthetic).

Yang menarik, ada orang yang hanya bisa paham materi melalui satu metode saja, ada yang bisa dengan beberapa metode. Nah, untuk yang ingin mengetahui preferensi belajar/learning style yang cocok, silahkan coba tes VARK disini: VARK QUESTIONS

Atau bisa juga langsung download PDFnya The-VARK-Questionnaire kemudian tabulasikan sendiri lebih cocok dengan metode yang mana.

Setelah mengetahui metode yang mejadi preferensi mahasiswa maka kegiatan pembelajaran dapat kita kondisikan menjadi lebih “asik”. Materi yang membosankan tentu menjadi lebih menarik jika metode penyampaian juga disesuaikan dengan preferensi dari mahasiswa.

Harapannya tentu mata kuliah yang saya ampu tidak hanya dilupakan begitu saja setelah UAS berakhir namun melekat terus sehingga memberi manfaat bagi mahasiswa 🙂

 

 

Analogi Pohon dalam Pariwisata Budaya

Beberapa waktu yang lalu ada seorang mahasiswa yang menyampaikan secara berapi-api ke saya bahwa pariwisata di Bali sudah membuat Bali di ambang kehancuran. Menurutnya dari artikel-artikel yang dia baca di media, sangat jelas bahwa pariwisata menghancurkan budaya, menghancurkan mental bahkan berpotensi menghancurkan jati diri “ke-Bali-an”orang Bali. Komentar  saya  sambil tersenyum “OK, kalau begitu bagaimana kalau kita bubarkan saja pariwisata? Stop saja turis datang ke Bali dan tutup semua hotel yang ada di Bali”. Jawabnya “Jangan bu, nanti kita makan dari mana tanpa pariwisata?”

Dialog singkat tersebut merupakan potret bagaimana pariwisata budaya Bali selalu dikecam namun disatu sisi dibutuhkan. Keterikatan Bali dengan pariwista bukan hanya sekedar “sayur tanpa garam” namun sudah menjadi “bread and breath of Bali”.

Dalam perspektif pariwisata dan budaya hampir selalu menjadi sebuah dikotomi, dua kutub magnet yang saling berlawanan. Saat pariwisata berkembang pesat, maka asumsinya saat itu juga akan terjadi degradasi budaya lokal. Menjawab ini saya sangat setuju dengan konsep Analogi Pohon atau tree analogy yang disampaikan oleh Pitana (2006),Picard (1996), Geriya (1991) dan McKean (1978). Konsep ini kemudian saya coba visualisasikan dan berikut penjabarannya.

TREE ANALOGY NEW.png

Dalam analogi pohon sebagai ekspansi dari konsep pariwisata budaya di Bali,  akarnya yang kuat  dari pohon tersebut adalah Agama Hindu. Batangnya yang kokoh adalah budaya secara umum, baik berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible). Daunnya yang lebat dan indah adalah kesenian Bali baik yang berupa kesenian visual (visual arts) maupun kesenian atraksi (performing arts). Pariwisata adalah bunga dan buah yang dapat “dipanen” sehingga nantinya dapat diperuntukan bagi kesejahteraan masyarakatnya.

Hasil dari pohon yang berupa bunga dan buah inilah yang dapat “dijual”, namun pendapatan yang dihasilkan dari penjualan tersebut harus diinvestasikan kembali ke pohon tersebut. Saat akar dan batang pohon tersebut kuat maka analoginya akan mampu menghasilkan daun yang sehat serta buah dan bunga yang manis.

Dengan mengaplikasikan analogi pohon maka antara agama, budaya, kesenian dan pariwisata tidak akan lagi menjadi sebuah dikotomi. Masing-masing bagian akan bersinergi untuk memperkuat satu sama lain, dan masyarakat Bali telah teruji untuk mampu menyeimbangkan pariwisata melalui analogi pohon.

SAS

Sustainable Tourism |12 Aims for Sustainable Tourism

From the  basic concept of sustainable tourism; it’s clear that sustainable tourism was designed not to stop tourism but to manage it in the interests of all three parties involved – the host habitats and communities, the tourists and the industry itself.  It seeks a balance between development and conservation.  It seeks to find the best form of tourism for an area taking into account its ecology and its culture.  It may mean limits to growth, or in some cases no growth at all. The precautionary principle is important here. Continue reading

Marketing 3.0

Image

Leading companies now understand they must reach highly aware, technology savvy customers. Kotler, Kartajaya and Setiawan say that the ‘old rules’ of product-based and consumer-based marketing will fail to do this. Companies need instead, to focus on creating products, services and entire corporate cultures, which are customer value driven at a more multi-dimensional, fundamental level.

To give a general idea, the following are the main differences between the three concepts:

Marketing 1.0 – product-centric, or the marketing of the industrial age, when marketing was about selling factory outputs. Marketing was transaction orientated: how to make a sale.

Marketing 2.0 – consumer-based, where marketing is relationship orientated -how to keep customers coming back and buying more.

Marketing 3.0 – value driven marketing, the linkage of three building blocks

Continue reading